Tentu saja bisa. Seperti yang pernah ku alami waktu kelas XII SMA, terjadi
sekitar dua tahun yang lalu. Kisah yang membuat ku lebih bersyukur dan belajar
untuk berbagi walau sekedar senyuman yang menyenangkan.
Kita juga selalu ingin bahagia bukan? Tenang kawan, ada Allah yang Maha
Penyayang. Ikuti kisahku.
Awalnya kelas XII terobsesi untuk hidup mandiri “ menghasilkan uang
sendiri” membantu meringankan beban orang tua, minimal tidak meminta uang jajan
sehari-hari. Maka kucoba untuk berjualan pulsa, karena tanpa modal aku bisa
belajar bisnis. Menggeluti bisnis pulsa memang tidak terlalu besar
keuntungannya, begitu pun tak terasa saldo habis dan uangnya belum terkumpul.
Hufft,,gara-gara sistem kredit karena kantong siswa SMA yang katanya tak
sanggup membeli secara kontan. Alhasil, selain belajar bisnis juga belajar jadi debt
collector deh, karena diberi waktu seminggu untuk melunasi pembayaran
pulsa dan setiap minggu keliling kelas buat nagih cicilan pulsa. Tapi gak
sampai bawa-bawa tas pinggang dan buku catatan hutang kok apalagi ditemani
“bodyguard”. Sungguh,Hidup ini butuh perjuangan kawan!
Tak terasa, saatnya setoran niih. Wah...hari itu adalah hari yang
menegangkan seakan-akan langit mau runtuh, awan tiba-tiba gelap, asap
tebal dan hitam lagi serasa menyelimuti tubuh, pokoknya waktu itu rasanya jadi
manusia paling menderita seisi jagat raya. Kenapa? Karena uang buat setoran
pulsa tekor Rp. 200.000,-. Bayangin, seumuran SMA tekor nyampe Rp. 200.000,-
ngeliat nol nya aja gak sanggup. Harapan ingin untung, malah buntung. Ya Rabb,
masih banyak teman-temanku yang ku tahu belum bayar, tapi mereka ngaku udah
bayar. Sudah ditagih berkali-kali pun mereka tak sadar. Mau minta bantuan orang
tua, TAK MUNGKIN. Guru? Apalagi. Teman? Mana ada yang mau. Akhirnya ku mencoba
mengembalikan semuanya kepada Allah yang Maha Kuasa. Mencoba bertawakkal dan
berpasrah diri kepada sang Pencipta. Setelah meminta tenggang waktu dua minggu,
akhirnya kasih sayang Allah turun juga. Apa itu?
Suatu hari, tak sengaja pak Kades meminta aku untuk mengikuti lomba pidato
tingkat kabupaten dalam rangka hari jadi Kabupaten Ciamis yang ke -368. Aku pun
menyanggupi, walau tak berharap sedikit pun menang, karena sudah beberapa kali
ikut lomba pidato belum diberi kesempatan untuk menang. Subhanallah ya Rabb,
hasil pengumuman menyatakan aku lah yang menjadi Juara. Ya.."Juara
pertama" sujud syukur pada-Mu, rasa bangga dan suka cita baur menjadi
satu. Disambut haru oleh orang tua, Kepala Desa, Pak Camat, guru-guru, sahabat
dan semua masyarakat. Penyerahan hadiah piala pun berlangsung dan diserahkan
oleh Bupati Ciamis dengan sebuah amplop besar yang tak kusangka sebelumnya.
Subhanallah walhamdulillah wasyukurillah. Isi ampolpnya adalah..jreng jreng
jreng.. DUA JUTA RUPIAH. KONTAN. Ini menjadi hadiah teristimewa bagiku, karena
bisa mempersembahkan uang itu untuk orang tua dan kebanggan terbesar karena
bersua dengan orang nomor satu di Ciamis kotaku tercinta. Eh,tunggu dulu,
terpikirikan olehku uang setoran pulsa yang belum aku bayar, bagaimana ini?
terbersit untuk memotong uang hadiah tersebut, karena kupikir orang tua pun tak
akan marah. Dilema pun terjadi padaku. Bingung.
Subhanallah, tak henti ku ucap ya Allah, ternyata ibu kepala KUA tiba-tiba
menyelipkan sebuah amplop dikantongku tanpa sepengetahuan siapa pun. Dan
kubuka, isinya DUA RATUS RIBU.LUAR BIASA. Allah begitu tahu apa yang kita
butuhkan. Akhirnya,Uang Dua juta itu kuserahkan untuk kedua orang tua, dan
uang dua ratus ribu itu kubayarkan untuk melunasi uang pulsa. Selesai
sudah masalah. Mengikhlaskan dua ratus ribu, Allah mengganti dengan begitu
banyak ratus ribu. Alhamdulillah.
Kawan, hikmahnya , segala sesuatu yang dikembalikan kepada Allah, maka
Allah akan mengembalikan beribu-ribu kali lipat pada kita, kepada umat-Nya yang
selalu mengetuk pintu Rahmat-Nya, maka Dia pun akan selalu membukakan
pintu-pintu Rahmat itu untuk kita. Melalui jalan apa pun sesuai kehendak-Nya.
Semoga menjadi inspirasi bagi kawan-kawan untuk selalu berbagi kepada
sesama. Upps, masalah bisnisnya jangan di coba ya, maklum waktu itu masih polos
dan lugu.
Salam semangat dan ukhuwah
0 comments:
Post a Comment